Header ads

Header ads
» » » PAN Malut Turunkan Paksa Majid Husen?

TERNATE-Setelah beberapa waktu lalu di demo di DPP PNS di Jakarta, Ketua PAN Maluku Utara yang juga calon wakil gubernur mendampingi Muhammad Kasuba (MK) itu diturunkan paksa oleh 7 dari 10 DPD kabupaten/kota.

Dalam rapat pleno diperluas yang dilakukan DPD dan DPW PAN Maluku Utara di Hotel Boulevard, Sabtu, 3 Maret 2018 malam yang dipimpin Suhardi Kasman,  Djufri dan M. Ichsan Lufin merekomendasikan  Madjid Husen diganti.

Ada beberapa alasan kenapa Majid diganti. Salah satunya, kesibukannya melaksanakan konsolidasi calon wakil gubernur menyebabkan roda organisasi tidak jalan. Padahal partai-partai pasca penetapan nomor urut sibuk mempersiapkan  perekrutan  calon legislatif.

Selain itu, Majid Husen diusulkan diganti karena terkait  mosi tak percaya sejumlah kader terhadap loyalitas mantan Sekda Provinsi Maluku Utara ini. Menyusul kesibukan Majid sebagai calon wakil gubernur secara langsung menggangu kelangsungan  organisasi partai.

Wakil ketua DPW PAN Maluku Utara, Suhardi Kasman menjelaskan, pengangkatan  ketua DPW baru dilakukan karena timbulnya  mosi  tidak  percaya lagi terhadap kepemimpinan dan loyalitas terhadap Abdul Madjid Husen sebagai ketua DPW PAN. Hasil rapat pleno  diperluas telah  disampaikan ke DPP PAN, namun  ada  tanggapan balik karena  bertepatan dengan  verifikasi faktual partai di Jakarta.

Pengusulan  pergantian Madjid Husen telah disepakati ketua-ketua DPD plus ketua DPD Kabupaten Pulau Taliabu dan Kepulauan Sula. Dalam pleno itu disepakati  Madjid Husen sudah saatnya dilengserkan dari ketua wilayah karena  tidak punya kemampuan menjalankan roda organisasi partai. “Semua  sepakat  memberhentikan  Madjid sebagai ketua dan mencari ketua baru,” kata  Suhardi.

Berdasarkan hasil evaluasi DPD PAN, beberapa problem mendasar yang menjadi  alasan kuat mencari sosok pemimpin baru di PAN, karena  Madjid Husen dianggap tidak mampu menjalankan agneda-agenda partai. Seperti  rapat kerja wilayah (Rakerwil), Rapat Pimpinan Wilayah (rapinwil) maupun  agenda-agenda  partai  yang  tidak pernah dijalankan.    

Sebab itu, sebagai pengurus partai, baik  DPW maupun DPD punya  hak mengusulkan pergantian ketua. Selama ini Majid tidak konsentrasi menjalankan roda organisasi dengan baik mulai tingkat wilayah hingga tingkat cabang Malut karena sibuk dengan konsolidasi calon wakil gubernur.

Dengan alasan-alasan ini, maka DPW dan DPD mengambil sikap menggelar pleno diperluas dengan agenda tunggal memberhentikan Majid Husen dari jabatan ketua wilayah.

Disebutkan, bobroknya  kepemimpinan Madjid Husen menyebabkan kisruh internal PAN yang hingga kini selesai. Dengan memberhentikan Majid Husen, maka secara organisasi, pelaksana tugas diserahkan ke  DPP untuk menentukan. sebab itu ranahnya DPP, sementara DPW  hanya mengusulkan. Untuk sementara, pelaksana tugas dijalankan  Sekretaris PAN,  Muhammad Saleh Tjan sambil menunggu keputusan DPP.

Menurut pandangan mantan Ketua DPW PAN, Abdrrahim Fabanyo, partai politik rentan dengan konflik. Parpol dan konflik tak bisa dipisahkan dimana dan kapan pun. Menurutnya, apabila satu organisasi melaksanakan rapat pleno  diperluas, otomatis ada sesuatu yang dibicarakan. Jika pleno itu dilaksanakan partai politik, maka internal partai lagi konflik atau ada kegaduhan internal.

Dikatakan,  public  menilai  PAN lemah  di era kepemimpinan Madjid Husen. Kok Im—sapaan Abdurrahim Fabanyo kepemimpinan Majid diibaratkan  pepatah ikan busuk dari kepalanya. Pepatah Tiongkok katanya ini  apabila  pemimpin tertinggi tidak loyal terhadap amanat yang mandatkan, dibawahnya pasti mengikuti. “Jadi kalau masyarakat berpandangan  masalah utama PAN ada di kepemimpinan,  mengakar  sampai pengurus tingkat bawah,” jelasnya.

Mantan wakil ketua DPRD kabupaten Maluku Utara ini melihat, kegaduhan internal PAN hingga  berujung  konflik berkepanjangan itu,  public akan menilai PAN antara hidup dan mati dalam mengawal agenda-agendanya. PAN sekarang ini seperti mati segan hidup tak mau. “Public yang akan menilai demikian,” katanya.

Abdurrahim berpandangan, rapat pleno diperluas hanya sekedar memberikan pendangan-pandangan pemikiran. Karena mulai meliha  kepemimpinan PAN mulai vakum. Ko Im mengatajan, mengelola partai  harus memahami benar segala isi dan seluk beluk partai itu. “Kalau  tidak memahami dengan benar, maka  konflik sewaktu-waktu akan datang.

Majid Husen saat dikonfirmasi mengatakan,  tidak  pusing dengan gerakan yang dilakukan kadernya. Menurutnya, protes adalah hal lumrah dalam dinamika politik. Bahkan Majid mengatakan, itu hanya riak biasa¸ tidak ada yang luar biasa. “Itu hal yang biasa dalam politik," ujarnya. Majid mengaku,  saat ini ia hanya lebih fokus memenangkan pemilihan gubernur. (jun)

By taliabu pos

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama