Header ads

Header ads
» » Malut Pangkas Rantai Distribusi Pangan


TERNATE-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku Utara (Malut) berupaya memangkas rantai panjang distribusi komoditas pangan yang dihasilkan petani di daerah ini, agar ada keseimbangan antara harga ditingkat petani dengan ditingkat konsumen.

"Rantai panjang distribusi komoditas pangan di Malut selama ini mengakibatkan harga di tingkat petani sangat murah, sedangkan harga ditingkat konsumen sangat mahal,"kata Kepala Dinas Pangan (Dispan) Malut, Saiful Turui di Ternate, Kamis (1/3).

Harga cabai Nona misalnya, di tingkat petani paling mahal Rp20.000 per kg, tetapi ketika sampai di pasar harganya paling murah Rp 40.000 per kg, bahkan tidak jarang melonjak sampai Rp80.000 per kg ketika stoknya agak terbatas.

Ia mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan Pemprov Malut untuk memangkas rantai panjang distribusi komoditas pangan tersebut adalah membangun gudang penampungan komoditas pangan di sejumlah kabupaten/kota, khususnya yang menjadi sentra pengembangan pangan, seperti di Kabupaten Halmahera Timur.

Gudang penampungan komoditas pangan itu dimanfaatkan untuk menampung produksi komoditas pangan petani, yang kemudian akan didistribusikan langsung ke pasar dengan menggunakan angkutan yang juga disiapkan Pemprov Malut, sehingga ongkosnya lebih murah.

Pemprov Malut, kata Saiful Turui, telah menyediakan 10 unit truk untuk mengangkut produksi komoditas pangan petani, dari gudang penampungan ke daerah yang menjadi tujuan pemasaran, seperti di Ternate yang selama ini menjadi tujuan utama pemasaran komoditas pangan di Malut.

Adanya upaya seperti itu diharapkan harga komoditas pangan ditingkat petani tidak akan jauh berbeda dengan harga dipasar, misalnya kalau harga cabai nona ditingkat petani Rp20.000 per kg maka di harga dipasar paling tinggi Rp30.000 per kg.

Ia menambahkan, upaya memangkas rantai panjang distribusi komoditas pangan itu juga diharapkan akan mendorong para pedagang yang mendatangkan komoditas pangan dari luar Malut, di antaranya dari Sulawesi Utara untuk menjualnya dipasaran Malut lebih murah, seperti harga komoditas pangan dari daerah ini.

Selain itu, juga diharapkan para petani di Malut akan semakin bergairah mengembangkan komoditas pangan, karena mereka tidak lagi harus berhadapan dengan tengkulat dalam memasarkan produksinya, yang sering memberi dengan harga sangat murah. (ant)

By taliabu pos

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama