Header ads

Header ads
» » Oknum PNS Diknas Kepulauan Sula Diduga Sunat Dacil

DPRD Kepsul pertanyakan indikasi dana Dacil disunat

SANANA-Oknum PNS Dinas Pendidikan Pariwisata dan Kebudayaan kabupaten Kepulauan Sula diduga menyunat dana guru daerah terpencil (Dacil). Tiap guru mestinya menerima  Rp. 2 juta per orang, malah disunat sehingga menerima kurang dari itu. Kondisi membuat  anggota DPRD  naik darah.

Anggota Komisi II dan III DPRD Kepulauan Sula mendapat laporan, bahwa  pemotongan dacil  guru dilakukan secara diam-diam. Karena itu DPRD  melakukan inspeksi mendadak di kantor Dinas Pendidikan. Sejumlah  anggota DPRD yang melakukan inspeksi itu dipimpin Ketua komisi II Ilyas Jainahu dan 4 anggota.

Mereka menemui Kepala Sinas Pendidikan, I Ketut Suparjana, Sekertaris Diknas  serta kepala-kepala bidang dan operator. Mereka menayakan satu per satu   pemotongan dacil yang diduga dilakukan oleh oknum di diknas.

Selain menanyakan  pemotongan dacil guru, DPRD  meminta  Diknas mengeluarkan  Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang tercantum data guru penerima dacil. “Keluarkan data guru penerima dacil,” pinta Ilyas.

Kadis Pendidikan, I Ketut Suparjana mengatakan, Diknas memberikan dana dacil  kepada guru-guru terpencil sesuai Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kepada guru yang mengajar di desa terpencil dan tertinggal.  Bahkan  menerima sebanyak 35 desa sementara jumlah dacil yang di terima tidak sesuai dengan kuota guru. “Penerima dacil sebanyak 294 orang sementara kuota hanya 178 orang. Karena itu kelebihan 116 orang tidak menerima dacil,” papar Ketut.

Dijelaskan, isu pemotongan dacil itu tidak benar, karena dacil ditransfer langsung ke rekening guru masing-masing. “Kalau ada guru yang memberikan kepada pegawai mungkin itu ucapan terima kasih, sebaliknya apabila terjadi pemaksaan untuk memberikan kita akan proses hukum,” tegasnya.

Data yang diperoleh DPRD justeru lain. Bahwa operator sengaja menginput nama-nama guru sesuai dengan perjanjian. Guru yang bersedia memberikan sebagian dacil, maka operator menginput datanya. Sedangkan guru yang menolak tidak diinput data-datanya. “Jadi guru penerima dacil sebelumnya telah ada kesepakatan dengan operator, itu tidak boleh,” kata Ilyas. (sdl)

By taliabu pos

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama