Header ads

Header ads
» » Ingat Kepulauan, Kapata Bacarita Kampung di Jakarta

Bacarita kampung berthema : Rabu, Ingat Kepulauan
FRONT Kapata Maluku Raya bersama Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) menggelar acara Bacarita kampung berthema : Rabu, Ingat Kepulauan Kami di depan Kantor KontraS, jalan Kramat 2 Kwintang Nomor 7 Jakarta Pusat, 17 Mei 2017 sekitar pukul 18:30 hingga 24:00 WIB.

Cerita kampung difokuskan pada konflik tambang di wilayah kepulauan Maluku dan Maluku Utara. Diawali dengan kasus dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) oleh Polda Maluku Utara dan Polres Kepulauan Sula.

Bacarita kampung ini dihadiri pula barudara dari Seram Maluku, Halmahera, Kepulauan Sula, Ambon, Maluku Barat Daya (MBD) serta Himpunan Pelajar Mahasiswa Maluku Utara (HIPMMU) Bandung.

Menurut Harulia Hasri, salah seorang pengagas bacarita kampung mengaku, ini merupakan kampanye yang dikemas  dalam bentuk bacarita kampung. Harulia pada kesempatan itu membawakan cerita di Pulau Taliabu yang menurutnya, ada dugaan pelanggaran HAM yang menimbulkan luka paling mendalam.

Dikatakan, secara historis sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, masyarakat Maluku Utara hidup dengan bercocok tanam seperti cengkeh, pala, coklat. Hasil ini dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan tinggi. “Kebiasaan orang Maluku dan Maluku Utara makan sagu, bukan makan bahan tambang. Begitu pula kehidupan nenek moyang kita menyatu dengan alam dan menjaga kelestariannya,” kata Harulia.

Kehadiran korporasi di Maluku dan Maluku Utara tanpa sosialisasi, memasang patok perkebunan dan di perkampungan dengan dalih tanah milik negara berdasarkan Undang-undang dasar  Negara Republik Indonesia pasal 33 ayat  (1). Tapi hanya memberi janji manis

kepada masyarakat, memberikan pekerjaan serta mendapatkan ekonomi lebih melalui  Corporate Social Responbliti (CSR). Padahal masyarakat  tidak diberikan pekerjaan di perusahaan apalagi menikmati CSR. Dengan janji itu, masyarakat merelakan alam dirusak, dieksploitasi tanpa batas. Pertanyaannya kata Harulia, rakyat dikemankan. Ironis memang. (dmc)

By taliabu pos

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama